Rekam Siaran Otomatis Dengan “PlayIt Recorder”

Bagi Anda radio swasta, tentu saja Anda harus punya arsip rekaman siaran sebagai bukti jika ada komplain dari masyarakat ataupun KPI/KPID. Anda bisa merekam secara otomatis dengan mengatur jadwal.

Salah satu software yang tersedia secara gratis adalah “PlayIt Recorder”. Anda tinggal daftar lalu dapat lisensinya.

Setiap file rekaman otomatis diberi nama sesuai program acara yang sudah kita jadwalkan di playit recorder.

Silahkan download di https://www.playitsoftware.com/Products/Recorder

Selamat mencoba!

Cara Menghitung BHP Frekuensi Radio FM

Hingga tulisan ini diturunkan, besarnya PNBP frekuensi radio mengacu pada PP no. 80 Tahun 2015. Simulasi ini bisa digunakan tidak hanya untuk radio FM saja, tapi untuk semua jenis frekuensi radio. BHP pada setiap wilayah tidak akan sama karena tergantung zona.

Berikut langkah-langkah untuk menghitung BHP Frekuensi radio FM :

1. Buka https://www.postel.go.id/sdppi_maps/10-20200601-sdppi-maps-simulasi-bhp.php

2. Isikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pada contoh ini saya mengisikan Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Berau.

Jenis layanan pilih “Radio Siaran FM”.

Pita frekuensi pilih “VHF 30-300 Mhz”.

Lebar pita / bandwidth (khz) isikan “300”

Daya pancar – ERP Power (dBm). ERP power ini adalah daya di input antena ditambah penguatan (gain) Antena.

 

[note]Effective Radiated Power (ERP) dalam dBm = daya di input antenna [dBm] + penguatan antenna [dBd][/note]

 

Anda bisa melihat hasil perhitungan ERP saat Anda mengurus ISR. Di situ hasilnya adalah dBW, sementara yang dibutuhkan dalam simulasi adalah dBm, sehingga Anda harus konversi di https://www.rapidtables.com/electric/dBW.html. Anggap saja power pemancar Anda dikeluarkan 400 Watt, lalu Antena menggunakan G6 dengan gain 6 dBi, maka ERP Power sekitar 30.27 dBW. Maka jika dikonversi ke dBm, hasilnya adalah 60,27 dBm. Maka Anda masukkan di bagian Daya Pancar – ERP Power (dBm) sebesar 60.27. Jadi tanda koma diganti tanda titik.

 

Jika Anda tidak bisa mendapat hasil ERP melalui spectraweb, Anda bisa hitung ERP di https://extapps.commscope.com/calculators/qerp.aspx.

Berikut contoh perhitungan ERP :

Di kalkulator ERP di atas, sebenarnya saya ingin memasukkan System losses 1,5 dB, tapi selalu yang keluar adalah 3 dB. Maka saya masukkan angka 2 dB. Maka ERPnya 60 dBm.

Jika ERP kita masukkan 60.27 dBm, maka berikut hasil simulasi BHPnya :

 

Jika Anda mendapat tagihan ISR yang selisihnya jauh dari hasil perhitungan Anda, maka Anda harus mengirimkan surat kepada SDPPI ataupun balmon setempat agar direvisi dengan menyertakan hasil perhitungan Anda seperti contoh di atas.

Semoga bermanfaat!

Perbedaan kabel LAN Cat.5e, 6, 6A, 7 dan 8

Saat ini, meski fiber optik sudah banyak menggantikan keberadaan kabel LAN, namun untuk jarak pendek kurang dari 50 meter masih efektif menggunakan kabel LAN, apalagi untuk tujuan PoE (Power Over Ethernet). Ada beraneka ragam merek kabel LAN yang ada di pasaran, juga berbagai macam kategori. Meski kategorinya sama, tapi mereknya berbeda, hal ini umumnya akan berbeda pada sisi keawetan / daya tahan. Harga yang mahal tentu saja lebih tahan lama.

Nah di artikel kali ini kita hanya menyoroti perbedaan kategorinya saja.

Dari tabel di atas terlihat bahwa kabel Cat8 jauh lebih unggul dari segi kecepatan, tapi jaraknya maksimum hanya 30m.

Setelah mengetahui perbedaannya, Anda bisa putuskan mau pakai kabel kategori apa yang sesuai kebutuhan Anda. Berhubung internet di Indonesia rata-rata di bawah 1 Gbps atau di bawah 1000 Mbps, saya menyarankan menggunakan cat 5e atau cat 6 saja sudah cukup. Saat ini kedua kategori ini juga yang sering saya pakai.

Untuk kabel LAN Cat.5, kemampuan maksimumnya adalah 100 mbps. Saya pribadi tidak menyarankan menggunakan kabel Cat.5, karena dari segi ketahanan masih bagus yang Cat.5e ataupun Cat.6. Dan untuk jangka panjang, jika kebutuhan bandwidth meningkat, tentunya Anda jadi harus mengganti kabel Cat.5 dengan Cat.5e ataupun Cat.6 bukan ? Padahal harganya tidak berbeda jauh.